Ada masa ketika aku berpikir bahwa menjadi dewasa berarti harus semakin sering keluar rumah.
Bertemu banyak orang, punya banyak cerita, pergi ke banyak tempat, atau sekadar mengisi akhir pekan dengan berbagai kegiatan.
Dulu, rasanya sayang sekali kalau hari libur hanya dihabiskan di kamar.
Kalau ada waktu luang, rasanya harus ku isi dengan kegiatan.
Harus membuat rencana. Harus punya cerita baru.
Atau sekadar berjalan sendirian, menikmati perjalanan dan melihat ke mana kaki membawaku.
Tapi sekarang?
Entah sejak kapan, rebahan di kamar justru menjadi salah satu hal yang paling aku tunggu.
Menutup pintu.
Mengganti pakaian kerja.
Menyalakan AC.
Merebahkan badan di kasur.
Memutar lagu yang entah sudah berapa kali didengar.
Menonton satu film atau berbagai vlog di YouTube.
Sesekali membuka ponsel tanpa benar-benar tahu sedang mencari apa.
Dan kalau boleh jujur, aku menikmatinya.
Mungkin ini salah satu bentuk kedewasaan yang tidak pernah banyak dibicarakan.
Kita tumbuh, lalu perlahan menyadari bahwa tidak semua waktu luang harus diisi dengan pergi ke mana-mana.
Tidak semua akhir pekan harus punya agenda.
Tidak semua malam harus dihabiskan bersama orang lain.
Kadang-kadang, kita hanya ingin berada di kamar sendiri dan tidak perlu menjadi siapa-siapa.
Dulu aku bisa dengan mudah berkata,
βAyo, pergi!β
Sekarang aku lebih sering bertanya,
βPulang jam berapa?β
βKe mana?β
βMau ngapain saja?β
Bukan karena aku tiba-tiba menjadi orang yang tidak suka bersosialisasi.
Aku masih suka jalan-jalan.
Masih suka bertemu orang.
Masih senang menemukan tempat baru dan membuat cerita baru.
Hanya saja, rasanya ada sesuatu yang berubah.
Hidupku akhir-akhir ini rasanya semakin mudah lelah, ya.
Entah karena umur yang semakin bertambah, atau karena semakin banyak hal yang harus dipikirkan.
Sekarang sedikit-sedikit pegal.
Sedikit-sedikit minum tolak angin.
Pulang kerja rasanya ingin langsung mandi, masuk kamar, lalu tidur.
Itu pun kalau sempat. Cuci muka saja kadang sudah terasa berat.
Ada hari-hari ketika tubuh kita sebenarnya sudah tahu bahwa kita lelah, jauh sebelum kita sendiri mau mengakuinya.
Kadang aku sendiri bertanya,
sebenarnya apa yang sedang aku kejar?
Uang?
Karier?
Masa depan?
Atau sekadar ingin merasa bahwa hidupku tidak berjalan sia-sia?
Aku tidak selalu punya jawabannya.
Yang aku tahu, hidup terus berjalan.
Dan sayangnya, kita masih hidup di dunia yang membutuhkan uang.
Mau makan, butuh uang.
Mau punya tempat tinggal, butuh uang.
Mau jalan-jalan, butuh uang.
Mau punya sedikit rasa aman untuk masa depan pun, lagi-lagi butuh uang.
Jadi meskipun lelah, kita tetap bekerja.
Meskipun ingin tidur lebih lama, alarm tetap berbunyi.
Meskipun kadang ingin berhenti sebentar, kebutuhan hidup tidak pernah benar-benar ikut berhenti.
Mungkin memang begini rasanya menjadi dewasa.
Tidak selalu tahu sedang menuju ke mana, tetapi tetap harus berjalan.
Ada masa ketika kita sibuk memikirkan masa depan, sampai lupa bahwa tubuh kita sedang meminta sedikit waktu untuk hari ini.
Mungkin karena semakin dewasa, kita semakin sadar bahwa energi kita terbatas.
Bertemu orang membutuhkan energi.
Berbicara membutuhkan energi.
Menjadi ramah ketika sebenarnya sedang lelah juga membutuhkan energi.
Bahkan menjelaskan kepada seseorang tentang apa yang sebenarnya kita rasakan pun membutuhkan energi.
Dulu rasanya kita bisa melakukan semuanya.
Sekarang mulai belajar memilih.
Memilih siapa yang ingin ditemui.
Memilih percakapan mana yang ingin diikuti.
Memilih tempat mana yang ingin didatangi.
Dan memilih kapan harus berkata,
βSepertinya hari ini aku ingin di rumah saja.β
Ada sesuatu yang menenangkan dari sebuah kamar.
Di sana, kita tidak perlu terlihat baik-baik saja.
Kalau sedang malas, ya malas.
Kalau sedang sedih, ya diam.
Kalau ingin menangis sejelek-jeleknya pun tidak apa-apa.
Kamar menjadi tempat di mana kita bisa berhenti sebentar dari dunia.
Bukan melarikan diri.
Hanya mengambil jeda.
Barangkali, setelah seharian menjadi banyak hal untuk banyak orang, kamar adalah satu-satunya tempat di mana kita tidak perlu menjadi siapa-siapa.
Karena terkadang hidup memang terlalu ramai.
Pekerjaan menunggu.
Pesan masuk terus berdatangan.
Pikiran melayang entah ke mana.
Ada masa depan yang harus direncanakan.
Ada uang yang harus dicari.
Ada hubungan yang harus dijaga.
Ada mimpi yang entah kapan bisa diwujudkan.
Dan di tengah semua itu, mungkin yang kita butuhkan bukan nasihat panjang.
Mungkin kita hanya butuh sebuah tempat untuk merebahkan badan yang sudah penat.
Mendengarkan musik.
Menonton film yang ringan.
Diterangi lampu kamar yang redup.
Dan beberapa jam diam tanpa harus memikirkan apa pun.
Lucunya, semakin dewasa, kebahagiaan juga terasa semakin sederhana.
Dulu mungkin bahagia berarti pergi ke tempat baru.
Piknik di tempat baru.
Liburan ke tempat yang belum pernah didatangi.
Dan sebenarnya, sampai sekarang pun aku masih senang kalau bisa pergi ke tempat baru.
Aku masih senang melihat kota yang berbeda, mencoba makanan yang belum pernah dicoba, atau sekadar duduk di suatu tempat sambil memperhatikan orang-orang yang tidak mengenalku.
Hanya saja, sekarang aku juga tahu bahwa bahagia tidak selalu harus dicari jauh-jauh.
Kadang sesederhana mendapatkan makanan yang kita inginkan setelah pulang kerja.
Kamar yang dingin.
Tempat tidur yang nyaman.
Lagu yang kita suka.
Atau malam yang akhirnya tidak meminta kita pergi ke mana-mana.
Mungkin bahagia ketika dewasa memang tidak lagi selalu berbentuk perjalanan.
Kadang ia datang dalam bentuk sederhana:
pulang tepat waktu, makan enak, mandi, lalu tidur tanpa memikirkan apa-apa.
Dulu aku takut melewatkan sesuatu.
Sekarang rasanya tidak apa-apa kalau tidak ikut.
Tidak semua undangan harus diterima.
Tidak semua percakapan harus dibalas panjang.
Tidak semua orang harus tahu apa yang sedang kita jalani.
Dan tidak semua hari harus produktif.
Ada hari-hari ketika satu-satunya pencapaian kita hanyalah berhasil melewati hari dengan lega.
Menurutku, itu juga cukup.
Ada hari ketika bertahan saja sudah membutuhkan banyak tenaga.
Mungkin kita memang sedang berubah.
Atau mungkin sebenarnya kita hanya sedang mengenal diri sendiri dengan lebih baik.
Kita mulai tahu apa yang membuat kita lelah.
Kita tahu kapan harus berhenti.
Kita tahu kapan membutuhkan orang lain dan kapan membutuhkan ruang untuk diri sendiri.
Kita mulai memahami bahwa hidup bukan perlombaan untuk terlihat paling sibuk.
Karena pada akhirnya, kita semua akan pulang ke tempat masing-masing.
Kembali ke kamar.
Kembali menjadi diri sendiri.
Tanpa pekerjaan.
Tanpa jabatan.
Tanpa tuntutan untuk terlihat bahagia.
Tanpa harus membuktikan apa pun.
Hanya kita, dengan segala pikiran yang belum selesai dan perasaan yang belum sempat dibereskan.
Dan mungkin, menjadi dewasa adalah ketika akhirnya kita tidak lagi merasa harus meminta maaf karena sedang lelah.
Kita boleh berhenti sebentar.
Boleh pulang lebih cepat.
Boleh membatalkan rencana.
Boleh tidur lebih lama.
Boleh memilih kamar yang sunyi daripada tempat yang ramai.
Karena ternyata, hidup bukan hanya tentang seberapa banyak tempat yang berhasil kita datangi atau seberapa banyak cerita yang berhasil kita buat.
Kadang, hidup juga tentang tahu kapan harus berhenti mengejar sesuatu dan berkata,
βHari ini, aku cukup sampai di sini.β
Jadi, kalau belakangan ini kamu lebih sering ingin berada di kamar, mungkin kamu tidak sedang menjadi membosankan.
Kalau kamu lebih memilih menonton film daripada pergi ke pesta, mungkin kamu tidak sedang kehilangan pergaulan.
Kalau akhir pekanmu dihabiskan dengan tidur, mendengarkan musik, memesan makanan, atau sekadar rebahan sambil menatap langit-langit kamar, mungkin hidupmu juga tidak sedang berjalan ke arah yang salah.
Mungkin kamu hanya sedang lelah.
Dan mungkin, untuk pertama kalinya, kamu cukup dewasa untuk mengakuinya.
Aku juga begitu.
Sekarang, setelah hari yang panjang, rasanya tidak banyak yang aku cari.
Aku hanya ingin pulang.
Menutup pintu kamar.
Menaruh ponsel di samping bantal.
Memutar lagu yang kusuka.
Lalu berbaring dan membiarkan dunia berjalan tanpa harus selalu kuikuti.
Dulu aku takut melewatkan banyak hal.
Sekarang aku mulai takut melewatkan diriku sendiri.
Mungkin menjadi dewasa bukan tentang semakin banyak hal yang bisa kita lakukan.
Tetapi tentang semakin tahu hal-hal apa yang sebenarnya tidak perlu kita lakukan.
Tentang tahu kapan harus pergi.
Kapan harus tinggal.
Kapan harus berkata iya.
Dan kapan akhirnya berani berkata,
βTidak hari ini.β
Dan kalau malam ini kamu juga sedang berada di kamar, menikmati kesunyianmu sendiriβ
tenang.
Kamu tidak sendirian.
Mungkin ada banyak orang lain di luar sana yang sedang melakukan hal yang sama.
Sedang berbaring.
Mendengarkan lagu.
Menonton sesuatu.
Memikirkan uang, pekerjaan, masa depan, hubungan, dan entah apa lagi.
Sama-sama tidak tahu sebenarnya sedang mengejar apa.
Tetapi tetap bangun setiap pagi dan mencoba lagi.
Pelan-pelan.
Satu hari lagi.
Satu langkah lagi.
Sampai akhirnya kita mengerti bahwa mungkin hidup memang tidak selalu meminta kita untuk berlari.
Kadang ia hanya meminta kita untuk pulang.
Dan malam ini, kalau yang ingin kamu lakukan hanya menutup pintu kamar, mematikan lampu, lalu beristirahatβ
mungkin itu sudah cukup.
Besok kita coba lagi.
-Dari aku, untuk kamu yang lelah dengan dunia-