Ada hal-hal dalam hidup yang ternyata memang tidak bisa dijelaskan kepada orang lain.

Bukan karena tidak ada yang mau mendengarkan.
Bukan juga karena tidak ada yang peduli.

Hanya saja, ada beberapa rasa yang memang cuma bisa dimengerti oleh orang yang menjalaninya.

Misalnya tentang pekerjaan.

Tentang bagaimana rasanya bangun pagi dengan pikiran yang sudah penuh, padahal hari bahkan belum dimulai.

Tentang masalah yang mungkin kelihatannya sederhana bagi orang lain, tapi entah kenapa terasa begitu berat ketika kita sendiri yang menghadapinya.

Kadang kita lelah.

Kadang kecewa.

Kadang sampai bertanya dalam hati, β€œAku masih sanggup nggak, ya?”

Dan lucunya, dari luar mungkin kita tetap terlihat biasa saja.

Tetap datang kerja.
Tetap membalas pesan.
Tetap bercanda.
Tetap menjalani hari seperti tidak terjadi apa-apa.

Padahal di dalam kepala, rasanya sedang ramai sekali.

Kita memang bisa bercerita kepada orang lain

Untungnya, kita tidak selalu sendirian.

Ada orang-orang yang bisa kita datangi ketika rasanya sudah terlalu penuh. Ada seseorang yang mau mendengarkan cerita kita, menemani ketika kita sedang kacau, atau sekadar berkata, β€œTenang, nanti juga baik-baik saja.”

Dan aku bersyukur untuk itu.

Karena terkadang, didengarkan saja sudah cukup membuat hati sedikit lebih ringan.

Tapi setelah percakapan itu selesai, apa yang terjadi?

Kita kembali ke kamar.

Kembali ke rutinitas.

Kembali membuka laptop, kembali bekerja, kembali menghadapi orang-orang yang mungkin menjadi bagian dari masalah kita.

Dan masalah yang tadi kita ceritakan masih ada.

Tidak ikut hilang hanya karena kita sudah selesai bercerita.

Besok pagi, tetap kita yang harus bangun.

Tetap kita yang harus menjalani hari.

Tetap kita yang harus memikirkan semuanya lagi.

Mungkin itu yang baru belakangan ini aku sadari.

Orang lain bisa menemani kita melewati sebuah masalah, tapi mereka tidak bisa menjalani masalah itu menggantikan kita.

Pada akhirnya, pilihan tetap ada di tangan kita

Orang lain boleh memberikan pendapat.

β€œCoba bertahan dulu.”

β€œKalau memang sudah nggak bahagia, ya pergi.”

β€œJangan terlalu dipikirin.”

β€œKalau aku jadi kamu, aku akan memilih yang ini.”

Mungkin mereka memang bermaksud baik.

Dan mungkin nasihat mereka juga benar.

Tapi tetap saja…

Mereka bukan kita.

Mereka tidak tahu bagaimana rasanya bangun setiap pagi dengan pikiran yang sama. Mereka tidak tahu berapa kali kita menangis diam-diam. Mereka tidak tahu berapa banyak hal yang sudah kita pertimbangkan sebelum akhirnya sampai di satu keputusan.

Jadi kalau suatu hari kita harus memilih, sebenarnya kita tidak sedang memilih untuk membuat semua orang mengerti.

Kita hanya sedang memilih apa yang sanggup kita jalani.

Mau bertahan, silakan.

Mau mencoba sekali lagi, tidak apa-apa.

Mau pergi dan memulai sesuatu yang baru, juga tidak salah.

Yang penting, setelah keputusan itu dibuat, kita siap dengan apa pun yang datang setelahnya.

Karena pada akhirnya, kita sendiri yang akan menjalaninya.

Ada hal yang memang harus kita hadapi sendiri

Dulu aku mungkin berpikir bahwa menjadi kuat berarti tidak membutuhkan siapa-siapa.

Ternyata bukan begitu.

Kita tetap boleh butuh orang lain.

Boleh menangis.
Boleh cerita.
Boleh minta ditemani.
Boleh bilang kalau kita sedang tidak baik-baik saja.

Kita tidak harus selalu terlihat kuat.

Tapi ada satu hal yang tetap tidak bisa dilakukan orang lain untuk kita:

menjalani hidup kita.

Orang lain bisa menggenggam tangan kita ketika kita takut.

Tapi kaki kita tetap harus melangkah sendiri.

Mereka bisa memeluk kita ketika kita menangis.

Tapi rasa sakit yang ada di dalam dada tetap kita yang merasakannya.

Mereka bisa bilang, β€œKamu kuat.”

Tapi ketika malam datang dan semuanya kembali sunyi, kita sendiri yang harus menemukan alasan untuk bangun lagi keesokan harinya.

Dan mungkin, di situlah sebenarnya kekuatan kita berada.

Bukan karena kita tidak pernah lemah.

Tapi karena meskipun berkali-kali merasa tidak sanggup, kita tetap mencoba.

Kalau dipikir-pikir, kita sudah sejauh ini

Ada banyak hal yang dulu pernah membuat kita berpikir,

β€œKayaknya aku nggak akan bisa melewati ini.”

Tapi nyatanya?

Kita lewat juga.

Mungkin tidak dengan cara yang indah.

Mungkin sambil menangis.

Mungkin sambil banyak mengeluh.

Mungkin sambil bertanya berkali-kali kenapa hidup harus serumit ini.

Tapi kita tetap sampai di hari ini.

Ada orang yang pernah kita kehilangan, dan dulu rasanya seperti dunia ikut berhenti.

Ada pekerjaan yang pernah membuat kita merasa tidak cukup baik.

Ada kegagalan yang membuat kita mempertanyakan diri sendiri.

Ada keputusan yang sampai sekarang mungkin masih sesekali kita pikirkan.

Tapi lihat…

Kita masih di sini.

Masih bangun setiap pagi.

Masih mencari sesuatu yang ingin kita capai.

Masih mencoba menjadi lebih baik.

Masih punya banyak hal yang ingin kita lakukan.

Dan mungkin selama ini kita terlalu sibuk mencari siapa yang akan menemani kita,

Sampai lupa satu orang yang sebenarnya tidak pernah pergi.

Diri kita sendiri.

Orang yang tetap tinggal ketika yang lain pergi.

Orang yang tetap membawa kita pulang ketika semuanya terasa berantakan.

Orang yang tetap bangun setiap pagi meskipun malam sebelumnya kita menangis sampai tertidur.

Dan orang itu…

ya, kita sendiri.

Jadi, mungkin sesekali dengarkan diri sendiri

Aku tidak ingin bilang bahwa kita harus selalu mengandalkan diri sendiri.

Karena manusia tetap membutuhkan manusia lain.

Kita butuh teman.

Butuh keluarga.

Butuh seseorang untuk tempat pulang dan bercerita.

Tapi jangan sampai karena terlalu sibuk mencari jawaban dari orang lain, kita justru lupa bertanya kepada diri sendiri.

β€œSebenarnya aku mau apa?”

β€œAku masih bahagia di sini?”

β€œAku bertahan karena memang ingin, atau karena takut kehilangan?”

β€œAku melakukan ini karena memang memilihnya, atau karena takut mengecewakan orang lain?”

Mungkin jawabannya tidak akan langsung muncul.

Tidak apa-apa.

Kita tidak harus selalu tahu apa yang harus dilakukan.

Kadang kita hanya perlu berhenti sebentar.

Menarik napas.

Mengakui kalau kita sedang lelah.

Lalu pelan-pelan bertanya kepada diri sendiri, sebenarnya kita ingin membawa hidup ini ke mana.

Karena hidup ini pada akhirnya tetap milik kita

Orang-orang akan datang dan pergi.

Ada yang tinggal cukup lama untuk menemani kita.

Ada yang hanya sebentar, tapi meninggalkan banyak pelajaran.

Ada yang memberikan nasihat.

Ada yang membuat kita kecewa.

Ada yang membantu kita bangkit.

Ada juga yang mungkin tanpa sadar membuat kita belajar untuk berdiri sendiri.

Semuanya punya bagian masing-masing.

Tapi ketika sampai di persimpangan, tetap kita yang memilih jalan.

Dan mungkin tidak ada pilihan yang benar-benar sempurna.

Setiap pilihan pasti punya konsekuensi.

Yang bisa kita lakukan hanya memilih dengan apa yang kita tahu dan rasakan saat ini, lalu belajar bertanggung jawab atas pilihan tersebut.

Karena hidup ini bukan tentang membuat semua orang mengerti keputusan kita.

Kadang, kita hanya perlu cukup mengerti diri sendiri.

Dan ketika semuanya kembali sunyi…

Pada akhirnya, akan ada malam-malam ketika tidak ada lagi yang bisa kita tanyai.

Tidak ada lagi pendapat yang perlu didengar.

Tidak ada lagi orang yang bisa kita jadikan tempat untuk memastikan apakah pilihan kita benar atau salah.

Yang tersisa hanya kita.

Dengan pikiran kita sendiri.

Dengan rasa takut kita sendiri.

Dengan keputusan yang sudah kita ambil.

Dan mungkin itu memang bagian dari menjadi dewasa.

Menyadari bahwa tidak semua hal bisa dibagi kepada orang lain.

Ada beberapa perjalanan yang memang harus kita tempuh sendiri.

Bukan karena kita tidak dicintai.

Bukan karena tidak ada yang peduli.

Tapi karena memang hidup ini adalah milik kita.

Jadi kalau hari ini kamu sedang lelah, tidak apa-apa.

Kalau kamu sedang bingung, tidak apa-apa.

Kalau kamu belum tahu harus memilih apa, juga tidak apa-apa.

Istirahatlah sebentar.

Ceritalah kalau memang ingin bercerita.

Menangislah kalau memang ingin menangis.

Tapi setelah semuanya sedikit lebih tenang, coba kembali kepada dirimu sendiri.

Dengarkan apa yang selama ini berusaha kamu katakan kepada dirimu.

Karena mungkin selama ini kamu terlalu sibuk mencari seseorang yang akan selalu ada untukmu.

Padahal ada satu orang yang sejak awal tidak pernah benar-benar meninggalkanmu.

Dirimu sendiri.

Dan kalau suatu hari semua orang pergi, semoga kamu tidak ikut meninggalkan dirimu sendiri.

Sebab pada akhirnya…

ujungnya, hanya ada kamu untuk dirimu.

β€” Dari aku, untuk kamu yang sedang lelah dengan dunia.

ratnachantt.com
.‒°€*(-β˜…-)*€° π»π‘’π‘™π‘™π‘œ, 𝐼'π‘š π‘…π‘Žπ‘‘π‘›π‘Ž. 𝐼 π‘€π‘œπ‘’π‘™π‘‘ π‘™π‘–π‘˜π‘’ π‘‘π‘œ π‘ β„Žπ‘Žπ‘Ÿπ‘’ π‘ π‘‘π‘œπ‘Ÿπ‘–π‘’π‘  π‘Žπ‘π‘œπ‘’π‘‘ π‘Žπ‘›π‘¦π‘‘β„Žπ‘–π‘›π‘” 𝐼 π‘€π‘Žπ‘›π‘‘ π‘‘π‘œ 𝑑𝑒𝑙𝑙, π‘’π‘ π‘π‘’π‘π‘–π‘Žπ‘™π‘™π‘¦ π‘šπ‘¦ 𝑒π‘₯𝑐𝑖𝑑𝑖𝑛𝑔 π‘Žπ‘›π‘‘ π‘‘π‘–π‘Ÿπ‘–π‘›π‘” π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘£π‘’π‘™ 𝑒π‘₯π‘π‘’π‘Ÿπ‘–π‘’π‘›π‘π‘’π‘ . πΆπ‘’π‘Ÿπ‘Ÿπ‘’π‘›π‘‘π‘™π‘¦, 𝐼 𝑙𝑖𝑣𝑒 𝑖𝑛 π½π‘Žπ‘˜π‘Žπ‘Ÿπ‘‘π‘Ž. 𝐡𝑒𝑠𝑖𝑑𝑒𝑠 π‘šπ‘¦ β„Žπ‘œπ‘π‘π‘¦ π‘œπ‘“ 𝑠𝑙𝑒𝑒𝑝𝑖𝑛𝑔 π‘™π‘–π‘˜π‘’ π‘Ž π‘˜π‘œπ‘Žπ‘™π‘Ž, 𝐼 π‘Žπ‘š π‘£π‘’π‘Ÿπ‘¦ π‘–π‘›π‘‘π‘’π‘Ÿπ‘’π‘ π‘‘π‘’π‘‘ 𝑖𝑛 π‘‘π‘Ÿπ‘Žπ‘£π‘’π‘™π‘–π‘›π‘” π‘Žπ‘›π‘‘ π‘£π‘œπ‘™π‘’π‘›π‘‘π‘’π‘’π‘Ÿπ‘–π‘›π‘”. πΉπ‘œπ‘Ÿ 𝑏𝑒𝑠𝑖𝑛𝑒𝑠𝑠 π‘–π‘›π‘žπ‘’π‘–π‘Ÿπ‘–π‘’π‘  π‘œπ‘Ÿ π‘“π‘’π‘Ÿπ‘‘β„Žπ‘’π‘Ÿ π‘–π‘›π‘“π‘œπ‘Ÿπ‘šπ‘Žπ‘‘π‘–π‘œπ‘›, π‘π‘™π‘’π‘Žπ‘ π‘’ π‘’π‘šπ‘Žπ‘–π‘™ π‘šπ‘’ π‘Žπ‘‘ π‘”π’Άπ’Ήπ’Ύπ“ˆπ“‰π’Άπ“ƒπ“…π’Άπ“…π‘’π“‰π’Ά@π‘”π‘šπ‘Žπ‘–π‘™.π‘π‘œπ‘š.❝ πŸ’—
Pos dibuat 10

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Pos Terkait

Mulai mengetik pencarian Anda diatas dan tekan enter untuk mencari. Tekan ESC untuk batal.

kembali ke Atas